Kamis, 03 Mei 2012

AYOOOOOOO...TEMUKAN SYUKURmu


"aduh hape saya kemana ini? koq gak ada ya? perasaan usah saya taro di tas deh", sambil mikir-mikir.
"aiiiiihhhhh bodoh banget aku kenapa ngomong kayak gitu, terlalu to the point! malu-maluin aja", sambil memukul-mukul kepala pelan.
"dia kenapa sihh? begitu banget wajahnya..biasa aja kaleee". Lagi sensi.

Mungkin kalimat-kalimat singkat diatas pernah terlontar dari lisan kita. Bahkan tak jarang menyalahkan diri sendiri saat sikap-sikap yang tak diinginkan datang. Contoh kecilnya, lupa, to the point (nyeplos), sensi(tif) mejadi hal yang sering kita anggap negatif. Mengapa? karena fenomena yang ---mungkin---kita lihat dalam kehidupan sehari-hari menyajikan sisi negatif yang lebih besar dari sisi positifnya. Lalu, pantaskah kita menyalahkan sikap-sikap itu yang memang sudah alami ada pada diri manusia? Sesungguhnya setiap hal yang ada didunia ini-termasuk sikap sikap itu- tidaklah Allah ciptakan dalam kesia-siaan. Hanya saja 'pemakaian'nya saja yang kurang tepat sehingga yang terlihat hanyalah keburukannya saja.

Lupa. ia berfungsi menghilangkan memori-memori buruk yang ada dalam ingatan kita. Menghilangkan kenangan pahit yang pernah kita alami dan bahkan menghilangkan rasa sakit yang dialami oleh ibu yang pernah melahirkan. Apa jadinya bila kita selalu mengingat kejadian buruk yang pernah menimpa kita? atau ibu yang telah lama melahirkan masih saja mengingat rasa sakit yang dideritanya saat proses melahirkan itu? Tentu akan sangat tersiksa hidup ini. Sedikit sekali kebahagiaan yang kita kecap selama hidup, padahal Allah memberikan begitu banyak kenikmatan dalam hidup ini.

To the point (nyeplos #eh). Bayangkan, saat seorang teman kita diundang menjadi pembicara dalam seminar internasional yang mengundang ratusan orang dari seluruh penjuru dunia dan tentunya akan sering kena jeprat-jepret kamera, kita sebagai temannya tidak memberitahukan bahwa ada potongan cabai merah di sela-sela giginya! ternyata sebelumnya dia habis sarapan nasi goreng pedas. Waaaahhhhh..... betapa malunya ia kalo kita tidak segera memberitahukannya (baca: to the point. Mungkin ia bakalan sangat malu saat ia tahu cetakan foto yang terdapat gambar dirinya terselip potongan cabai merah di sela-sela giginya. Malu yang ia derita akan berbeda kadarnya jika dibandingkan kalau kita yang memberitahukannya. Wuiihh..berabe.

Sensi(tif). Nah, ini dia yang gak bisa ketinggalan dari kaum hawa (kaum adam juga banyak koq meski gak umum). Dikit-dikit curiga. Dikit-dikit ngambek. Jjjjiiiaahhhh....cuape deh #:-/. Orang lain cemberut dikit , perasaan (berkata) dia lagi kesel ama kita. Gak nyapa, dianggepnya sombong (mungkin emang gak engeh tuh..). Tuh kan jadi males deh deket-deket ama manusia model gini. Eitt,, tunggu dulu !Gak selamanya rasa sensi(tif) itu buruk koq.. ia bisa berguna untuk mengetahui dan merasakan kondisi seseorang yang sesungguhnya dengan bersikap penuh perhatian ke orang itu atau yang biasa kita kenal dengan sikap empati. Kalo gak ada rasa empati, maka dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang individualis yang berakhir 'ketragisan'. Karena akan banyak orang yang mati kelaparan sementara tetangga sebelahnya sedang berpesta ria.

Nah, nah... ada juga kan manfaatnya... Peracaya deh, setiap yang Allah ciptakan pasti ada manfaat didalamnya. Tinggal bagaimana kita aja yang menemukan rasa syukur itu pada kondisi tersulit sekalipun (sulit menerima kekurangan diri sendiri). Okeh?? kalo sikap-sikap semacam itu timbul lagi pada kondisi yang gak seharusnya jangan terlalu menghakimi diri sendiri ya... manusia itu emang tempatnya salah , tugas kita hanya memenej kesalahan itu agar gak terulang di lain waktu ataupun kalo terulang kadarnya harus semakin berkurang.

Last But Not Least, teruslah memperbaiki diri sendiri.

SEMANGAT PERBAIKAN DIRI !!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar