Sebuah perenungan pribadi.
Awalnya memikirkan tentang perkawanan, persahabatan dan ....cinta.
Lalu berusaha melihat dan merasakan setiap peristiwa yang pernah terjadi. Terkadang senangnya bukan kepalang hingga terbahak sendiri. Namun disisi lain sedih yang teramat sampai mengeluarkan air mata dan tersedu bahkan sampai menyesakkan dada. Ada juga rona kekesalan, memerah, hingga marah tanpa sebab. Ahh,, seperti setengah waras aku ini. Sesungguhnya apa yang terjadi pada diriku ini?
Ditempat aku berdiri kini aku merasakan sesuatu yang lebih dari tempat sebelumnya. Dulu,, aku tak pernah ingin mengikat hatiku pada siapapun. Karena aku senang kebebasan. Aku senang ke tempat manapun yang kusuka tanpa ada satupun orang yang memberatkan hatiku. Aku adalah pribadi yang bebas. Namun, setelah bertemu dengannya, berkawan dengannya, bermain dengannya, duniaku terasa berbeda. Ya, berbeda. Terasa perubahan yang membuatku tersenyum didekatnya dan sedih bila tak bersamanya. Sungguh, hal ini benar-benar kurasakan. Hal yang tak pernah kurasakan saat berteman dengan siapapun, termasuk sahabat terbaikku. Perasaan macam apa ini? Cinta kah??
Aku tak percaya jika aku bisa mencintai seorang kawan hingga demikian. Padahal dulu aku amat menghindarinya karena aku tak mau merasakan sakit bila kawan yang kucintai tak bersamaku lagi. Tapi apa daya, pesonanya membuatku selalu ingin bersamanya. Aku tak tahu apakah perasaanku sama dengannya. Apapun tanggapannya tentang diriku, aku senang bisa mencintainya. Karena ia memang orang yang pantas untuk dicintai.
Beberapa waktu berjalan, seperti ada minder yang menelusup pada diriku. Aku malu karena merasa tak berguna untuk dirinya sedang ia selalu saja membantuku tentunya dengan ketulusan yang penuh. Lama kelamaan , sedikit demi sedikit aku mulai menjauhinya. Padahal jika aku menjauhinya, justru membuat hatiku terasa sakit, sakit sekali, namun kutahan. Disaat yang sama mungkin ia berpikir lain perihal diriku yang menjauhinya. Mungkin ia merasa ada kesalahannya yang membuat aku harus menjauhinya. Dan...ia pun benar-benar menjauh dariku. Ahh, Bodohnya aku.
Kini, ia seperti tak ingin bersamaku lagi. Ia bisa mengulang kisah indah saat bersamaku dengan orang lain, sedang aku? aku masih belum bisa mengulangnya dengan orang yang berbeda. Aku sangaat kecewa. Sebegitu hebatkah dia? Memang tak salah aku pernah mencintainya, karena ia memang orang yang sangat hebat kebaikannya. Dimanapun ia berdiri, ia bisa tegak. Dan, aku belajar banyak darinya meskipun kenyataan sekarang tak bersamanya lagi.
Kemudian dalam perenunganku yang lain, timbul pertanyaan : "Pernahkah kau mencintai Sang Pencinta seperti kau mencintai kawanmu itu? Bukankah Ia sangat mencintaimu melebihi cinta kawanmu terhadapmu?Kau bisa menangis karena jauh darinya pernahkah kau melakukan hal yang sama untuk Yang Menciptakannya?" Ohh, pertanyaan yang menyesakkan dada.
Aku kembali berpikir dalam kekecawaan yang dalam tiba-tiba sebuah nasihat,"jika kau merasa kecewa kepada makhluk itu tandanya Ia ingin kau kembali ke pangkuanNya. Ia ingin menunjukkan bahwa tak ada yang mencitaimu melebihi cintaNya kepadamu."
Ohh Rabb.. maafkan kealpaanku.
Hai......... selamat datang di blog ku... ini perdana blog aku buat lho. Menerima kritik dan saran yang membangun.
Senin, 30 April 2012
Mencoba Mengerti
Mencoba mengerti arti kehidupan. Dulu, saat saya masih menduduki usia sekolah dasar. Seringkali saya menatap cermin. Bukan untuk memuji diri sendiri "wah, saya cantikya.." atau mempertanyakannya "saya cantik ga sih?"Sesekali saya bergaya didepan cermin sambil memeperhatikan setiap lekuk tubuh yang Allah ciptakan, mata, hidung, telinga, badan, tangan, kaki. Dan terlintas di kepala saya.."untuk apa saya diciptakan ya? kenapa saya ada disini? kenapa nama saya Devi? kenapa juga bentuk saya seperti ini? kenapa saya gak diciptakan sebagai debu aja?" pertanyaan pertanyaan semacam itu seringkali spontan keluar tatkala saya bercermin. Dan... itu hanya menggelayut di alam pikiran saya aja. Tidak keluar. Seiring berjalannya waktu , saya mulai dapat mengerti dan menjawab sendiri berbagai pertanyaan-pertanyaan itu. Saya Mempertanyakan Kehidupan. Bertambahnya usia, membuat pertanyaan yang semuanya telah terjawab, kini makin berkembang. Saat saya mengebu-gebu untuk menjadi bintang kelas, disaat yang sama saya kembali bertanya, "untuk apa nilai yang mati-matian saya dapatkan? Apakah saya paham dengan semua pelajaran yang telah saya dapatkan? kalo tidak paham , lalu untuk apa saya belajar? apa gunanya saya bersaing untuk mendapatkan bintang kelas?" . Pertanyaan-pertanyaan itu selalu saja menggelayut, apalagi kalo sedang ga ada kerjaan. Seperti biasa, pertanyaan-pertanyaan itu hanya menggelayut dikepala sampai akhirnya menemukan jawabannya sendiri. Semakin jauh saya berjalan, semakin saya menemukan berbagai macam karakter manusia, menemukan sisi lain kehidupan, menemukan kepingan-kepingan hikmah yang berceceran, menemukan berbagai episode kehidupan, menemukan macam lika-likunya, menemukan dan menemukan hal-hal lainnya...
Label:
Perenungan
Langganan:
Komentar (Atom)